• Taman Ayun Temple
  • Mount Batur & Lake
  • Tanah Lot
  • Besakih Temple

KONTAK KAMI

  • KONTAK PERSON
  • Ibu Ni Wayan Suweci
  • Bpk I Putu Arsasusila
  • 0812-3963-0889
  • NO. TELEPON
  • Hotline
  • 0812-3963-0889 (TELKOMSEL)
  • infopaketliburanbali@gmail.com
KANTOR KAMI :

Jl. Pandu, Gg Tegal Harum No 14, Banjar Dukuh, Desa Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali-Indonesia 80361

Villa Di Bali Untuk Rombongan

Sewa Mobil di Bali

Paket Honeymoon Bali Private Pool

Paket Liburan Bali Dgn Hotel

Paket Liburan Bali Tanpa Hotel

Aktivitas Wisata Di Bali

Paket Tour Bali 1 Hari

 

Obyek Wisata Goa Gajah

Obyek Wisata Goa Gajah

Obyek wisata Goa Gajah merupakan peninggalan masa awal periode Hindu Budha di Bali yang pernah diajukan sebagai situs warisan budaya dunia

 

Obyek wisata Goa Gajah terletak di Desa Bedulu Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Goa ini dibangun pada tepi jurang dari pertemuan sebuah sungai kecil, yaitu kali Pangkung, yang airnya kemudian bercampur dengan dengan air sungai Petanu yang mengalir dibawahnya. Daerah pertemuan dua sungai yang disebut “campuhan” dipandang memiliki tenaga magis.

Kata Goa Gajah diduga berasal dari kata “Lwa Gajah”, nama wihara atau pertapaan bagi bhiksu dalam agama Budha. Nama tersebut terdapat dalam lontar Negarakertagama yang disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Lwa atau lwah / loh berarti sungai. Oleh karena itu yang dimaksudkan Goa Gajah disini adalah pertapaan yang terletak di sungai Gajah.

Dalam prasasti tahun 944 Saka disebutkan nama “Ser Ring Air Gajah” yang artinya kepala subak di air Gajah. Hal tersebut memberi tanda bahwa bahwa pertapaan ‘Lwa Gajah” terletak di subak Air Gajah. Dalam prasasti tahun saka 1103 yang dikeluarkan oleh raja Jayapangus disebutkan bahwa “Air Gajah” adalah pertapaan bagi pendeta Siwa. Berdasarkan data tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pertapaan yang sekarang bernama Goa Gajah pada masa lampau bernama:

  1. Air Gajah yaitu pertapaan bagi pendeta siwa.
  2. Lwa Gajah yaitu pertapaan bagi bhiksu atau pendeta Budha.

Selain nama Air Gajah dan Lwa Gajah, juga disebutkan nama pertapaan “Antakunjarapada” yaitu dalam prasasti Dawan 975 Saka dan Pandak Bandung tahun 933 Saka. Ditinjau dari arti katanya, maka ”kunjara” berarti gajah, “anta” berarti akhir atau batas, “pada” berarti tempat atau wilayah. Bila dipadukan “Antakunjarapada” berarti, “perbatasan wilayah gajah”, maksudnya adalah pertapaan yang terletak pada perbatasan wilayah subak “Air Gajah”.

Jadi pada masa lampau Goa Gajah memiliki 3 buah sebutan untuk menamakan pertapaan yang terletak di perbatasan wilayah subak “ Air Gajah” ini yaitu:

  1. Air Gajah (nama dalam Bahasa Melayu Kuna atau Bali Kuna)
  2. Lwa Gajah (Nama dalam bahasa Jawa Kuna)
  3. Antakunjarapada (nama dalam Bahasa Sansekerta)

Pertapaan Goa Gajah yang namanya dalam bahasa Sansekerta Antakunjarapada dapat dihubungkan dengan pertapaan yang terletak di India Selatan yang bernama “kunjarakunja”. Pertapaan tersebut terletak di lereng Gunung Kunjarayaitu sebuah pertapaan atau Asram / tempat kediaman Rsi Agastya. Di daerah tersebut mengalir sebuah sungai yang disebut Tamraparni. Kunjarakunja bila diartikan adalah, kunjara = gajah, kunja = hutan. Pertapaan Rsi Agastya yang bernama Kunjarakunja itulah yang menjadi konsep penamaan “Goa Gajah” sehingga design Goa Gajah ditata sedemikian rupa agar menggambarkan sebuah pertapaan yang terletak di alam pegunungan.

Struktur dan relief Goa Gajah berbentuk huruf T yang terdiri dari:

  1. Bagian luar berupa lorong berbentuk vertikal, terbagi menjadi 2 bagian, dan pada tiap tiap bagian memiliki 2 buah ceruk.
  2. Bagian dalam ruangan utama memiliki 11 buah ceruk berbentuk horizontal. Pada ujung barat terdapat arca Dewa Ganesa, sedangkan di ujung timur terdapat 3 buah lingga dan masing masing lingga tersebut dikelilingi oleh lingga kecil.

Oleh karena pertapaan Goa Gajah merupakan bentuk tiruan dari pertapaan Kunjarakunja yang ada di di India Selatan yang merupakan tempat pertapaan dari Rsi Agastya maka relief yang dipahatkan pada Goa Gajah adalah pahatan pahatan alam pegunungan.

Diantara relief – relieft tersebut terdapat pepohonan dengan ranting ranting dan daun yang lebat, binatang, antara lain babi hutan, kura - kura dan hantu yang seolah olah merayap mendaki lereng pegunungan. Pada mulut goa, sebagai pintu masuk, dihiasi pahatan kepala Kala dengan mata melirik ke arah kanan atau barat. Pada mulut goa itu yaitu pada dinding sebelah kiri atau timur terdapat tulisan singkat “huruf tipe Kediri atau Kediri Kwadrat” dari awal abad ke 11. Kala tersebut fungsinya sama dengan Bhoma yang terdapat pada gapura dari sebuah pura, yaitu untuk menjaga kesucian pertapaan dan memberikan perlindungan. Goa tersebut baru diketahui pada tahun 1923 yamg sebelumnya tertutup rerumputan dan pohon - pohonan sehingga keberadaannya masih tersembunyi sebagai peninggalan.

Di areal Goa Gajah juga terdapat kolam “petirthaan” tempat mengambil tirtha atau air suci untuk keperluan upacara. Kolam suci tersebut pada mulanya tertimbun tanah, dan berhasil ditemukan pada tahun 1954 oleh krijgsman dari Dinas Purbakala pada waktu itu. Kolam suci tersebut dilengkapi arca arca pancuran “Widyadara-Widyadari” yang diatur berjajar dalam 2 kelompok, tiga tiga sejumlah enam arca (5 arca diantaranya sudah dipasang kembali). Kemungkinan awalnya terdapat 7 arca pancuran, sebuah arca terletak di tengah – tengah sebagai penyela yang kini keberadaannya belum diketahui. Keberadaan 7 arca pancuran didasari konsep “ sapta tirtha” yaitu tujuh air suci yang memiliki nilai kesucian sama dengan sapta nadi yakni tujuh sungai yang disucikan yaitu: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Serayu dan Narmada. Hal tersebut bermakna simbolis bahwa mengambil air dari masing – masing pancuran tersebut memiliki nilai sakral seperti sakralnya nilai sapta nadi tersebut.

Komplek Peninggalan Arkeologi

Peninggalan arkeologi komplek pertapaan Goa Gajah ada 2 jenis:

  1. Komplek Goa Gajah Utara

Komplek Goa Gajah utara pada dasarnya merupakan pertapaan pendeta Siwa. Hal ini didukung oleh adanya tiga lingga / tri lingga dalam satu lapik yang menjadi inti pemujaan yang ditujukan untuk Dewa Siwa dalam aspek vertikal sebagai Tri Purusa: Siwa, Sada Siwa dan Perama Siwa. Selain Tri Lingga, dalam goa yang berbentuk huruf T tersebut juga dijumpai arca Dewa Ganesa. Dewa Ganesa dipandang sebagai sebagai dewa penolak bahaya sehingga beliau juga disebut Dewa Wighnapati. Selain itu, beliau juga dianggap sebagai dewa kearifan atau dewa kebijaksanaan yang disebut dengan dewa Winakaya. Beliau juga disebut dewa Ekadanta yaitu dewa yang bertaring satu karena satu taringnya telah patah ketika digunakan sebagai senjata untuk mengalahkan raksasa Nilarudraka yang konon tak bisa mati oleh senjata biasa.

Sikap duduk arca Ganesa dengan mempertemukan jari jari kaki yang dinamakan Wirasana melambangkan keperwiraan. Eksamala / Genitri atau tasbih yang terdiri dari untaian permata melambangkan jalinan butir – butir ilmu pengetahuan yang selalu dibawa pada tangan kanan merupakan atribut kebijaksanaan dari dewa Ganesa. Tangan kanan depan arca Ganesa membawa patahan taring yang merupakan atribut sebagai simbol patahnya nafsu keraksasaan. Yang juga merupakan ciri kebijaksanaan adalah mangkok pada tangan kiri depan yang berisi air yang diisap melalui belalainya, yang berarti bahwa ilmu pengetahuan itu harus dicari dan dipelajari. Atribut lain dari arca Ganesa adalah parasu yang berarti kapak yang dibawa dengan tangan kiri belakang sebagai ciri bahwa beliau adalah dewa penolak bahaya.

  1. Komplek Goa Gajah Selatan

Komplek Goa Gajah Selatan merupakan pertapaan pendeta Budha. Hal ini diperkuat dengan adanya:

  1. Sebuah lapik bercabang tiga yang masing masing menyangga stupa (relief ini telah runtuh dari lereng jurang), dan tiap stupa tersebut puncaknya berupa susunan sejumlah payung atau catra. Pada bagian dasar stupa terdapat lapik berhiaskan bunga teratai mengingatkan pada stambha (tugu) Blanjong Sanur dari tahun 913 M.
  2. Ceruk ceruk yang diantaranya terdapat arca Dhyani Budha Amithaba yang dipandang sebagai penguasa arah barat.
  3. Arca Hariti Dewi dalam agama Budha sebagai penyayang anak, yang sebelum mendapat ajaran Budha, amat gemar makan daging orang terutama daging anak – anak. Arca Dewi Hariti tersebut kini ditemukan dalam sebuah pelinggih yang terletak di depan goa T (pada masa lalu bersal dari pertapaan pendeta Budha)

Fungsi Goa Gajah

Berdasarkan kelompok peninggalan arkeologi sebagai temuan permukaan seperti tersebut diatas, dan atas dasar hasil hasil ekskavasi yang diadakan pada tahun 1955, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi Goa Gajah adalah sebagai tempat pertapaan dan wihara untuk pendeta Siwa dan pendeta Budha yaitu: komplek Goa Gajah bagian utara untuk pendeta Siwa dan komplek Goa Gajah bagian selatan untuk pendeta Budha atau Bhiksu.

Periodisasi

Masa pembuatan pertapaan Goa Gajah dapat diketahui berdasarkan:

  • Prasasti singkat yang dipahatkan pada didinding timur dari mulut Goa berupa tulisan yang memakai huruf Kediri Kwadrat dari awal abad ke 11 yang berbunyi “Kumon dan sahy wangsa”.
  • Adanya relief stupa dengan lapik berhiaskan bunga teratai yang terdapat pada tebing dari komplek Goa Gajah selatan yang bentukm dan hiasannya serupa dengan “sthamba” Blanjong, Sanur, dari tahun 923 M, membuktikan bahwa relief stupa pada komplek Goa Gajah tersebut bersal dari permulaan abad ke 10.

Berdasarkan kedua data tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa masa pembangunan komplek pertapaan dan wihara Goa Gajah dimulai pada abad ke 10 sampai 11 pada masa pemerintahan Raja Udayana yang menjadi raja dari tahun 989 – 1022 M. Kesimpulan tersebut diperkuat dengan adanya data bahwa dalam pemerintahan Udayana terdapat lembaga penasehat kerajaan pakira-kiran I jro makabehan yang anggotanya antara lain adalah kelompok pendeta Siwa dan pendeta Budha yang bernama “Mpungku Siwa Sogota” dimana anggotanya dari beberapa pendeta Siwa yang dinamakan “Dang Acarya” yang jumlah anggotanya paling sedikit 21 orang dan “Dang Upadhyaya” yang anggotanya hanya 4 orang pendeta Budha. Dan mereka itulah yang menggunakan Goa Gajah sebagai tempat pertapaan dan wihara pada masanya.